Dahulu ada seorang ulama yang pernah berubah kepalanya menjadi sosok domba ulama itu dahulu seorang perampok. Mungkin kalian penasaran kenapa bisa manusia berubah menjadi domba? ternyata bisa saja terjadi jika manusia itu melakukan kejahatan dan dikutuk menjadi sesuatu oleh orang yang memiliki karomah atau kelebihan.

Sumber gambar: 4.bp.blogspot.com/-6c_xdaSoZjI/WpppuU5bWVI/AAAAAAAADWI/Wde8yBIzP2wH04dVmWTx1ckDYSv_yB9iQCLcBGAs/s1600/20180203_105152.jpg

Syekh Domba dulunya seorang perampok yang mensengsarakan rakyat di Klaten. Sosoknay bernama Ki Sambangdalan. Sikapnya dahulu merupakan sosok perampok yang tega merampok harta orang dan ditakuti.

Sumber gambar: pendampingblog.files.wordpress.com/2017/01/bayat.jpg?w=458&h=392

Ki Sambangdalan mengalami perubahan sikap saat bertemu dengan Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Bayat beserta istri Sunan Bayat yang sedang melakukan perjalanan. Perjalanan itu dicegat oleh Ki Sambangdalan dimana Ki Sambangdalan merampok apa yang dibawah oleh Sunan Bayat dan istrinya. Sosok Ki Sambangdalan merupakan sosok perampok yang tidak pernah puas.Ki Sambangdalan sudah merampok mas dan uang yang dimiliki oleh istri Sunan Bayat namun juga belum membiarkan Sunan Bayat dan istri melanjutkan perjalanan karena Ki Sambangdalan masih menganggap Sunan Bayat didalam tongkatnya masih menyimpan harta lain hingga mau merebut tongkat Sunan Bayat. Sunan Bayat merasa Kesal akan sikap Ki Sambangdalan dimana bukan hanya menghalangi perjalanannya namun membuat Istrinya ketakutan dan sedih ditambah sosoknya belum puas hingga mau mengambil tongkat miliknya. Sunan Bayat kemudian bilang keras kepala kamu seperti domba sontak Ki Sambangdalan wajahnya berubah menjadi wajah domba. Ki Sambangdalan ketakutan dan menyadari sosok didepannya bukan orang sembarangan. Ki Sambangaran meminta maaf dan memohon dikembalikan wajahnya seperti semula. Sunan Bayat hanya menyatakan jika ingin kembali seperti semula maka harus tirakat dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Dikutip dari konfrontasi.com ( 26/03/2017).

Sumber gambar: 2.bp.blogspot.com/-KDXmTb77wIc/WppqcRhXXFI/AAAAAAAADWQ/HVRIK1uMvXw3vSf3_kxC1cAb0Kw9qnG1ACLcBGAs/s1600/20180203_112404.jpg

Sejak itu Ki Sambangdalan bertobat dan bertirakat selain itu juga mendalami ilmu dan menjadikan Sunan Bayat menjadi gurunya. Sunan Bayat senang akan perubahan sikap Ki Sambangdalan. Ki Sambangdalan berubah kembali kewujud manusia tidak kepala domba lagi. Ki Sambangdalan membantu Sunan Bayat menyebaran agama islam khususnya di Klaten. Dengan Bantuan Ki Sambangdalan islam makin berkembang tidak hanya di Bayat namun juga Klaten.

Ki Sambangdalan yang dulunya pernah berubah menjadi sosok manusia kepala kambing kemudian lebih dikenal sebagai Syekh Domba. Sosok Syaikh Domba menjadi salah satu ulama besar di Klaten.

Ada hal menarik akan Syekh Domba. Saat meninggal tidak ada yang tahu dimana makamnya khususnya para santrinya. Syaikh Domba memiliki burung merak yang merupakan buruk peliharaannya. Saat Syaikh Domba tidak pulang berhari-hari sontak para muridnya mempertanyakan dimana Syaikh Domba. Kemudian burung merak peliharaannya dilepaskan untuk mencari sosok Syaikh Domba. Burung tersebut sampailah di bukit Cakaran dan mencakar-cakar tanah yang ternyata cakaran tersebut didalamnya ada sosok Syaikh Domba yang sudah meninggal. Dikutip dari gudangmisteri.com.

Sumber gambar: 4.bp.blogspot.com/-NOBHZfVoE_M/WMFrrk8kTcI/AAAAAAAAAEs/RQwMPlC5iKAwUm36XaF8iRhW3HE36Cc-ACLcB/s1600/24-makam-syeh-domba-2.jpg

Syaikh Domba meninggal dan dimakamkan di Bukit Cakaran Desa Paseban Kecamatan Bayat Klaten. Makam beliu menjadi makam yang banyak dikunjungi wisatawan religius untuk berziarah kemakamnya. Seperti ulama atau sunan lainnya, makam Syaikh Domba selalu sarana mendatangkan rezeki terutama bagi pedagang disekitar dan juga orang lain yang mencari rezeki disekitar.

Sumber bacaan:

konfrontasi.com/content/khazanah/kisah-karomah-sunan-bayat

Gudangmisteri.com/2017/03/daftar-makam-tempat-ziarah-dan-wisata.html

old.solopos.com/2010/07/11/peziarah-tewas-di-makam-syeh-domba-29603

This article is non-journalistic content copyrighted by the We-Media author and do not reflect the views of UC News