Referensi pihak ketiga

Sebelum terkenal seperti sekarang, kehidupan Ustadz Abdul Somad biasa saja. Beliau bebas berbaur di masyarakat tanpa ada yang minta foto.

Bahkan UAS punya cerita pahit ketika diacuhkan di rumah makan. Hal ini UAS sampaikan dalam berbagai kesempatan ceramahnya. UAS menceritakan beberapa tahun lalu, ia mengalami hal yang tak menyenangkan.

Ketika itu, UAS yang sedang asik makan terusir karena datangnya rombongan pejabat yang kemudian memonopoli rumah makan itu. UAS pun pindah dan pindah ke posisi pojokan.

“Suatu malam saya makanlah di sebuah rumah makan, sendirian. Saya parkir kendaraan, saya pun makan. Tak berapa lama, tiba-tiba datang satu pasukan, minggir, minggir, minggir, karena orang besar akan datang.” Ungkap UAS.

Kedatangan pejabat itu dikawal oleh orang-orang berbadan besar dan tegap.

“Tiba-tiba saya lihat mobil besar, yang keluar dari mobil itu orang-orang besar semuanya, 85 kilo ke atas. Saya pun minggirlah dari tempat makan nyaman, enak, saya pun minggir ke tempat tepi-tepi, lihatlah mereka ketawa cekikian.” Tambah UAS.

Namun demikian UAS tak mencaci atau mengunggah pengalamannya ini ke media sosial dan tak mendoakan agar pejabat tersebut tertimpa keburukan.

“Hati saya dalam hati, Ya Allah, tapi saya tak pernah caci mereka. Saya tak pernah doakan, ‘Ya Allah tertelanlah tulang matilah dia’, ndak. Saya hanya tetap melanjutkan makan. Tapi hati saya tersentuh karena malam itu saya diusir sedang makan. Memangnya saya siapa, kenapa mereka mengusir saya.” Kata UAS.

Beberapa tahun yang lalu, kebetulan UAS diundang oleh lembaga pemasyarakatan untuk menyampaikan tablik akbar. Ketika sedang berceramah, UAS tak sengaja melihat pejabat yang dulu mengusirnya di rumah makan sedang mendekam di balik jeruji besi.

“Hari berganti musim berubah. Saya diminta ceramah ke lembaga pemasyarakatan, penjara. ‘Ustadz bisa tablik akbar di penjara?’ ‘Bisa.’ Saya pun masuk ke dalam, kebetulan waktu banyak menerima tamu.

Saya lihat di atas lantai semen kasar, tidak pakai penutup, tidak pakai alas, pakai kaos oblong, dalam keadaan terhina, orang yang dulu mengejek, menghina, menjatuhkan dan menyepelekan saya.” Cerita UAS.

UAS mengaku terenyuh melihat kondisi pejabat itu.

“Saya lihat lama dan tersentuh. ‘Ya Allah ini yang beberapa tahun lalu mengusir, sekarang duduk di lantai, tidak pakai alas. Begitulah Allah menjatuhkan derajat, begitu pula Allah menaikkan derajat, sampai kita pun kasihan.” Ungkap UAS.

Itulah akibat bagi orang yang sombong. Allah langsung menampakkannya di dunia.

Sumber: www.makassar.tribunnews.com

This article is non-journalistic content copyrighted by the We-Media author and do not reflect the views of UC News